Friday, August 05, 2016

Riwayat Candi Borobudur, Pernah Terkubur Seribu Tahun (?)

Candi Borobudur merupakan Candi Buddha terbesar di Indonesia yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi  yang dibangun sekitar tahun 780 M tersebut, konon disebut-sebut pernah rusak akibat terkubur oleh lava letusan Gunung Merapi pada tahun 950 M. Sekitar seribu tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1814, reruntuhan Candi Borobudur ditemukan kembali atas jasa Sir Thomas Stamford Raffles.  Candi yang berada di bukit kecil itu, telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia dan pada pada tahun 1991 dimasukkan dalam daftar warisan dunia (world heritage list) nomor 582.

Berdasarkan tulisan dalam beberapa batu di Candi Borobudur, para ahli berpendapat bahwa candi ini mulai dibangun sekitar tahun 780 M, pada masa pemerintahan raja-raja Wangsa Sanjaya. Pembangunannya memakan waktu berpuluh-puluh tahun dan baru selesai sekitar tahun 830 M, yaitu pada masa pemerintahan Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra. Konon arsitek candi yang maha besar ini bernama Gunadharma.

Candi Borobudur berdiri di atas bukit yang memanjang arah timur-barat. Candi ini dibangun dari balok batu andesit sebanyak 47,500 m3, yang disusun rapi tanpa perekat, dan dilapisi dengan lapisan putuh 'vajralepa', seperti yang terdapat di Candi Kalasan dan Candi Sari. Bangunan kuno Borobudur berbentuk limas bersusun dengan tangga naik di keempat sisi, yaitu sisi timur, selatan, barat, dan utara. Konon di sisi timur, di bawah kaki candi, pernah ditemukan jalan naik ke atas bukit. Hal itu mendasari dugaan bahwa Candi Borobudur menghadap ke timur dan pintu utama adalah yang terletak di sisi timur.

Jumlah Arca Buddha, termasuk yang telah rusak, mencapai 504 buah. Arca-arca Buddha tersebut menggambarkan Buddha dalam berbagai sikap.

  • - Arca-arca di sisi timur menggambarkan Dhyani Buddha Aksobhya, yaitu Buddha bersila dengan sikap tangan menyinggung tanah atau sikap Bhumiparsyamudra.
  • - Arca-arca di sisi selatan menggambarkan Dhyani Buddha Ratnasambhawa, yaitu Buddha bersila dengan sikap tangan memberi anugrah atau sikap Varamudra.
  • - Arca-arca di sisi barat menggambarkan Dhyani Buddha Amitabha, yaitu Buddha bersila dengan sikap tangan bersemadi sikap Dhyanamudra.
  • - Arca-arca di sisi utara menggambarkan Dhyani Buddha Amogasidhi, yaitu Buddha bersila dengan sikap tangan menentramkam atau sikap Abhayamudra.
  • - Arca-arca di puncak menggambarkan Dhyani Buddha Vairosyana, yaitu Buddha bersila dengan sikap tangan mengajar (ibu jari dan telunjuk bersentuhan dan ketiga jari lain terangkat) atau sikap Vitarkamudra.
  • - Arca-arca di undakan lingkaran menggambarkan Dhyani Buddha Vairosyana, yaitu Buddha bersila dengan sikap tangan mewejangkan ajaran atau sikap Dharmacakramudra.

Di tingkat III terdapat 16 stupa dengan lubang hiasan berbentuk persegi, bersisi horisontal datar dan sisi vertikal tegak. Lubang berbentuk persegi ini melambangkan nafsu yang telah lenyap tak bersisa. Puncak atap merupakan sebuah stupa yang sangat besar. Konon dalam stupa ini dahulu terdapat arca Sang Adhi Buddha, yaitu Dhyani Buddha tertinggi dalam agama Buddha Mahayana.

Dalam Kitab Negarakertagama (1365 M.) disebut-sebut tentang Budur, sebuah bangunan suci Buddha aliran Vajradhara. Menurut Casparis dalam Prasasti Sri Kahulunan (842 M) dinyatakan tentang “Kawulan i Bhumi Sambhara”. Berdasarkan hal itu ia berpendapat bahwa Borobudur merupakan tempat pemujaan. Bumi Shambara adalah nama tempat di Borobudur. Menurut Poerbatjaraka, Borobudur berarti Biara Budur, sedangkan menurut Raffles, 'bara' berarti besar dan 'budhur' merupakan kata dalam bahasa Jawa yang berarti Buddha.

Dampak Letusan Gunung Merapi pada Candi Borobudur 
Candi Borobudur dan Gunung Merapi disebut dua 'mahameru' yang berdampimgam karena lokasi keduanya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 30 kilometer. Gunung Merapi adalah 'mahameru' yang tercipta oleh proses alam selama ribuan tahun. Sejak dulu hingga kini, gunung ini sering meletupkan energinya lewat erupsi yang dampaknya mampu menimbulkan berbagai kerusakan.

Goenoeng Merapi op Midden-Java (KITLV - Circa 1900)

Ada yang mengatakan, letusan Merapi pada 1006 telah menghancurkan kebudayaan Mataram Hindu di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, membendung aliran Sungai Progo, membentuk danau besar di Kedu Selatan, serta mengubur Candi Borobudur. Seperti diungkap Van Bemmelen dalam bukunya "The Geology of Indonesia" menyebutkan bahwa piroklastika Merapi pada letusan besar tahun 1006 telah menutupi danau Borobudur menjadi kering dan sekaligus menutupi candi ini hingga lenyap dari sejarah. Apa yang diungkap Van Bemmelen mungkin terinspirasi tulisan W.O.J. Nieuwenkamp, seorang arsitek, pemahat, pelukis, etnolog  Belanda di Indonesia tahun 1933. Ia mengeluarkan hipotesis yang menggegerkan kalangan para sejarawan saat itu: bahwa Borobudur dulunya dibangun di tengah-tengah telaga seperti bunga teratai di tengah kolam. Hipotesisnya itu ditulisnya di majalah umum yang terbit di Belanda ”Het Boroboedoermeer” – Algemeen Handelsblaad, Deen Haag, 9 September 1933.

Namun, penelitian Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta, Indonesia 2006 akhirnya membantah hipotesis Borobudur tertimbun karena letusan Merapi. Jika benar tertutupnya Borobudur akibat  letusan Gunung Merapi, mengapa tidak ditemukan sisa endapan yang mempunyai korelasi dengan endapan hasil letusan sekitar waktu tersebut. Letusan yang mengubur candi mestinya sangat besar, dan meninggalkan endapan yang seharusnya mudah ditemukan. Di sisi lain, berdasarkan Prasasti Prasasti Kalkuta di India yang berangka tahun 963 Saka (1041) atau  Prasasti Pucangan dinyatakan bahwa telah terjadi bencana besar (pralaya) pada tahun 928 Saka (tahun 1006) akibat serangan Raja Wurawari dari Lwaram terhadap Kerajaan Mataram Hindu. Berdasarkan catatan sejarah, “pralaya” yang disebut dalam Prasasti Pucangan tidak pernah terjadi pada tahun 1006, tetapi 1016 atau tahun 1017. Dan itu akibat serangan, bukan letusan Merapi.

Catatan sejarah telah membuktikan bahwa candi ini tetap dipelihara dan digunakan oleh pendukungnya paling tidak hingga abad ke-14. Mitos bencana hebat letusan Gunung Merapi yang
mengakibatkan Candi Borobudur dan sekitarnya ditinggalkan tidak didukung dengan bukti yang kuat sehingga perlu dipertimbangkan kembali. Candi Borobudur tidak ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya karena erupsi Gunung Merapi. Barangkali justru pengaruh agama Islam yang semakin menguat di wilayah ini menjadi alasan yang lebih masuk akal untuk menjelaskan mengapa salah satu pusat belajar agama Budha ini semakin tidak mendapatkan perhatian.

Setelah terakhir disebut dalam kitab Nagarakrtagama abad ke-14, tidak ada catatan lagi tentang Candi Borobudur selama beberapa abad. Candi ini baru tercatat kembali dalam sejarah tradisi pada sekitar awal abad-18. Babad Tanah Jawi, misalnya, menyebutkan adanya tokoh pemberontak bernama Ki Mas Dana yang kalah dan bersembunyi di Redi Borobudur. Sementara itu, Kitab Babad Mataram juga menceritakan tentang adanya 'arca seribu” dan “satria terkurung” di Borobudur yang disebut sebagai tempat larangan. Diceritakan pula, pada tahun 1757 seorang putra raja bernama Pangeran Mancanegara tiba-tiba wafat sekembalinya dari berkunjung ke candi ini (Tanudirjo et als., 1994).

Jadi, dalam kurun waktu sekitar tiga atau empat abad itu, Candi Borobudur telah mengalami proses transformasi dari 'tempat suci agama Budha Bajradara' menjadi sekedar 'bukit' (redi) dan reruntuhan candi yang tabu untuk dikunjungi. Rasanya tidak sulit membayangkan perubahan ini
disebabkan karena semakin meluasnya pengaruh agama Islam di Jawa. Seperti diketahui, pada awal abad ke-15, komunitas Islam di Jawa Tengah berkembang sangat pesat. Kedatangan armada Zheng-He pada tahun 1415 telah mendorong kuat perkembangan Islam di pantai utara Jawa, termasuk Jawa Tengah (Graaf dan Pigeaud, 1984). Bahkan, Serat Kanda menceritakan tokoh komunitas Cina Muslim di Majapahit mempersembahkan putrinya kepada raja Majapahit Kertabhumi dan mereka kemudian dianugerahi wilayah Kedu untuk dikelola (Muljana, 2005).

Terlepas tepat atau tidaknya informasi dari Serat Kanda, yang pasti dalam waktu kurang dari seabad sejak itu, di Jawa Tengah telah berdiri kerajaan Islam pertama dengan pusatnya di Demak. Selain itu, penyebaran Islam ke Jawa Tengah bagian selatan pun gencar dilakukan oleh para ulama Islam antara lain Ki Ageng Pandanaran atau Sunan Tembayat. Menghadapi situasi seperti ini kiranya cukup wajar jika komunitas pemeluk agama Budha mulai menyusut dan Candi Borobudur mulai ditinggalkan dan ditabukan untuk dikunjungi. Hanya saja ketika Belanda menguasai Indonesia, kondisi sudang berbeda lagi karena wujud Candi Borobudur sudah tak berbentuk seperti candi lagi melainkan berupa reruntuhan yang tertutup semak belukar.

Pembangunan Kembali Candi Borobudur
Adalah Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa yang punya peran penting dalam penemuan dan membangkitkan kembali bangunan Candi Borobudur dari reruntuhan. Pada saat Raffles berkunjung ke Semarang, ia mendapatkan informasi bahwa di daerah Kedu ditemukan tumpukan batu bergambar. Konon pada tahun 1814, serombongan orang mendatangi suatu daerah di Karesidenan Kedu untuk mencari tahu lebih jauh tentang legenda yang berkaitan dengan sebuah bukit dekat Desa Boro.

Setelah membabat semak belukar dan menggali serta membersihkan gundukan abu gunung berapi, mereka menemukan sejumlah besar bongkahan batu berpahatkan gambar-gambar aneh. Raffles kemudian memerintahkan Cornelius, seorang Belanda, untuk membersihkan batu-batu tersebut. Pembersihan tumpukan batu dan lingkungan di sekitarnya kemudian dilanjutkan oleh Residen Kedu yang bernama Hartman.

Pada tahun 1907,  Pemerintah Hindia Belanda menunjuk Theodoor van Erp memimpin pemugaran hingga tahun 1911. Melalui proses panjang, Borobudur yang dulu terbenam, bisa menatap Matahari dan berdiri tegak hingga kini. Dalam pemugaran yang dipimpin Theodoor van Erp mengutamakan pengembalian ketiga teras atap candi dan stupa pusatnya. Pemugaran kedua berlangsung selama sepuluh tahun, yaitu tahun 1973 – 1983. Dalam pemugaran ini Candi Borobudur dibongkar, fondasi dan dindingnya diberi penguat beton bertulang, dan batu-batunya diteliti, dibersihkan, diberi pengawet kedap air dan disusun kembali sesuai susunannya semula.