Sukuh, Candi Hindu yang Menyimpang: Ada Penis dan Vagina

Lokasi Candi Sukuh berada di lereng barat Gunung Lawu, tepatnya di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Bangunan Candi Sukuh berada pada ketinggian + 910 merer di atas permukaan laut. Candi ini diperkirakan dibangun pada akhir abad ke-15 M. Namun karena sesuatu hal pernah runtuh dan ditemukan oleh Johnson, Residen Surakarta pada masa pemerintahan Raffles, dalam keadaan rusak pada tahun 1815.

Candi yang diperkirakan dibangun pada akhir abad ke-15 M itu berlatar belakang agama Hindu. Namun arsitektur Candi Sukuh dinilai menyimpang dari ketentuan dalam kitab pedoman pembuatan bangunan suci Hindu, Wastu Widya. Menurut ketentuan, sebuah candi harus berdenah dasar bujur sangkar dengan tempat yang paling suci terletak di tengah. Adanya penyimpangan tersebut diduga karena Candi Sukuh dibangun pada masa memudarnya pengaruh Hinduisme di Jawa.

Memudarnya pengaruh Hinduisme di Jawa pada masa pembangunan Candi Sukuh diperkirakan  menghidupkan kembali unsur-unsur budaya setempat dari zaman Megalitikum. Pengaruh zaman prasejarah terlihat dari bentuk bangunan Candi Sukuh yang merupakan teras berundak. Bentuk semacam itu mirip dengan bangunan punden berundak yang merupakan ciri khas bangunan suci pada masa pra-Hindu. Ciri khas lain bangunan suci dari masa pra-Hindu adalah tempat yang paling suci terletak di bagian paling tinggi dan paling belakang.

Uniknya, selain dinilai menyumpang dari arsitektur Hindu, di ruang dalam gapura, terhampar di lantai, terdapat pahatan yang menggambarkan phallus dan vagina dalam bentuk yang nyata yang hampir bersentuhan satu sama lain. Pahatan tersebut merupakan penggambaran bersatunya lingga (kelamin perempuan) dan yoni (kelamin laki-laki) yang merupakan lambang kesuburan.

Menurut dugaan para ahli, Candi Sukuh dibangun untuk tujuan pengruwatan, yaitu menangkal atau melepaskan kekuatan buruk yang mempengaruhi kehidupan seseorang akibat ciri-ciri tertentu yang dimilikinya. Dugaan tersebut didasarkan pada relief-relief yang memuat cerita-cerita pengruwatan, seperti Sudamala dan Garudheya, dan pada arca kura-kura dan garuda yang terdapat di Candi Sukuh.

Kerusakan Candi Sukuh dan Pembangunan Kembali
Pada masa penjajahan kolonial Belanda, tepatnya tahun 1815, Candi Sukuh ditemukan dalam kondisi rusak.  Kemudian, pada tahun 1842 Candi Sukuh diteliti oleh Van der Vlis. Hasil penelitian tersebut dilaporkan dalam buku Van der Vlis yang berjudul Prove Eener Beschrijten op Soekoeh en Tjeto. Penelitian terhadap candi tersebut kemudian dilanjutkan oleh Hoepermans pada tahun 1864-1867 dan dilaporkan dalam bukunya yang berjudul Hindoe Oudheiden van Java. Pada tahun 1889, Verbeek mengadakan inventarisasi terhadap candi Sukuh, yang dilanjutkan dengan penelitian oleh Knebel dan WF. Stutterheim pada tahun 1910.

Upaya pelestarian Candi Sukuh yang dilakukan sejak jaman Belanda itu berlanjut hingga Indonesia merdeka. Pemugaran pertama dilakukan oleh Dinas Purbakala pada tahun 1917. Pada akhir tahun 1970-an Candi Sukuh mengalami pemugaran kembali oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.