Google+ Followers

Rekapitulasi Versi http://sragenkab.go.id/pilleg: PDIP Sragen Unggul

Thursday, 10 April 2014 | 14:19

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sragen belum mengeluarkan informasi hasil penghitungan suara Pemilihan Umum Anggota Legislatif 2014. Kendati demikian, dalam website Pemerintah Kabupaten Sragen telah mempublikasikan hasil rekapitulasi suara sementara. Dalam webhttp://sragenkab.go.id/pilleg terdapat REKAPITULASI HASIL PENGHITUNGAN SUARA SEMENTARA PEMILIHAN ANGGOTA LEGISLATIF KABUPATEN SRAGEN 2014 seperti tampak di bawah ini: 

Menurut rekapitulasi versi http://sragenkab.go.id/pilleg pada Jam 13.00 - 10 April 2014, PDIP meraih suara terbesar (25%).

14:19 | 0 komentar | Read More

Pesawat MH37O Tak Hilang, Tapi Mendarat di Syurga (?)

Saturday, 29 March 2014 | 21:52

Rasa sedih para keluarga penumpang pesawat Malaysia Airlines MH370 yang dikabarkan hilang, semoga segera berakhir. Segala teknologi dari berbagai negara telah dikerahkan, tapi tak ada yang dapat menemukan dengan pasti di mana pesawat MH370 itu mendarat. Menurut kabar dari SUARA HATI dalam"Meditasi Transendental", pesawat MH370 itu sangat dimungkinkan telah "mendarat di Syurga dalam proses penuh keihklasan". Untuk itu, para keluarga penumpang pesawat MH370 diharapkan tidak perlu larut dalam kesedihan yang berkepanjangan.

Seperti diketahui, semenjak pesawat MH370 dinyatakan hilang kontak komunikasi dengan pengelola bandara, banyak beredar spekulasi yang diberitakan di berbagai media. Berita hilangnya pesawat MH370 ini juga sempat membuat keluarga penumpang pesawat MH370 dari China merasa kurang puas atas tindakan pemerintah Malaysia dalam melakukan pencarian.

Bahkan, keluarga dari penumpang pesawat Malaysia Airlines dari China ada yang mendesak agar pemerintah China mengambil alih proses penyelidikan. Mereka tidak percaya Malaysia bisa melakukan penyelidikan. Dokumen permintaan tersebut disampaikan oleh keluarga penumpang kepada utusan khusus China yang datang ke Kuala Lumpur, Malaysia. Dokumen tersebut mendesak agar Pemerintah China melakukan penyelidikannya sendiri. "Kami mempertanyakan pihak Malaysia yang terus melakukan kesalahan serta menunda saat terbaik untuk mencari MH370," tulis surat yang diarahkan kepada utusan khusus China Zhang Yesui, seperti dikutip The Malaysian Insider, Jumat (28/3/2014).

Setelah lokasi pencarian pesawat Malaysia Airlines MH370 digeser ke lokasi yang baru di kawasan selatan Samudra Hindia, lima pesawat pencari langsung menemukan berbagai objek yang diduga berasal dari pesawat nahas itu. Namun belum ada bukti objek itu ada kaitan dengan MH370. "Berdasarkan citra fotografi, objek-objek tersebut berhasil dideteksi dan akan diperiksa. Hingga saat ini, objek tersebut tidak dapat diverifikasi dan belum bisa dikonfirmasi berasal dari penerbangan MH370," ujar pihak Otoritas Keamanan Maritim Australia, seperti dikutip The Star, Sabtu (29/3/2014).

Namun, berdasar perhitungan rasional, harapan ditemukannya pesawat MH370 secara utuh di bumi ini  sepertinya sudah sangat tipis. Dari hasil Meditasi Transendental yang Saya lakukan, sangat dimungkinkan pesawat MH370 itu telah mendarat di Syurga dalam proses penuh keihklasan. Karena  itu, para keluarga penumpang pesawat MH370 diharapkan tidak perlu larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Ada baiknya, jika para keluarga mengihklaskan kepergian semua penumpang pesawat MH370 tersebut. Semoga saja, semua penumpang pesawat MH370 telah berada dalam alam kedamaian dan selalu mendapat perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Inilah bentuk doa Saya untuk semua penumpang pesawat MH370. Doa ini kutulis agar para keluarga penumpang pesawat MH370 tidak larut dalam kesedihan yang berkepanjangan.
21:52 | 0 komentar | Read More

Download Gratis The Act of Killing

Friday, 7 March 2014 | 21:46

SinopsisFilm: Anwar Congo dan teman-temannya adalah tokoh masyarakat terpandang, preman terkenal, dan pembunuh massal. Pada 1965, sebagai bagian dari pergantian rejim pemerintahan di Indonesia yang didukung negara Barat, mereka naik pangkat dari preman kecil-kecilan calo bioskop menjadi pasukan pembunuh paramiliter, yang dalam waktu kurang dari satu tahun, membantu Angkatan Darat membasmi lebih dari satu juta orang yang dituduh kiri, etnik Tionghoa, seniman, dan cendekiawan. 

Jagal bercerita tentang para pembunuh yang menang, dan wajah masyarakat yang dibentuk oleh mereka. Tidak seperti para pelaku genosida Nazi atau Rwanda yang menua, Anwar dan kawan-kawannya tidak pernah sekalipun dipaksa oleh sejarah untuk mengakui bahwa mereka ikut serta dalam kejahatan terhadap kemanusiaan. Mereka justru menuliskan sendiri sejarahnya yang penuh kemenangan dan menjadi panutan. 

Kecintaan pada Sinema
Pada masa mudanya, Anwar dan kawan-kawan menghabiskan hari-harinya di bioskop karena mereka adalah preman bioskop: mereka menguasai pasar gelap karcis, dan pada saat yang sama menggunakan bioskop sebagai markas operasi untuk kejahatan yang lebih serius. Di tahun 1965, tentara merekrut mereka untuk membentuk pasukan pembunuh dengan pertimbangan bahwa mereka telah terbukti memiliki kemampuan melakukan kekerasan, dan mereka membenci komunis yang berusaha memboikot pemutaran film Amerika—film-film yang paling populer (dan menguntungkan). Anwar dan kawan-kawan adalah pengagum berat James Dean, John Wayne, dan Victor Mature. Mereka secara terang-terangan mengikuti gaya berpakaian dan cara membunuh dari idola mereka dalam film-film Holywood. Keluar dari pertunjukan midnight, mereka merasa “seperti gangster yang keluar dari layar.” Masih terpengaruh suasana, mereka menyeberang jalan ke kantor dan membunuh tahanan yang menjadi jatah harian setiap malam. Meminjam teknik dari film mafia, Anwar lebih menyukai menjerat korban-korbannya dengan kawat. 

Dalam Jagal, Anwar dan kawan-kawan bersepakat untuk menyampaikan cerita pembunuhan tersebut kepada produser filmi. Tetapi idenya bukanlah direkam dalam film dan menyampaikan testimoni untuk sebuah film dokumenter: Mereka ingin menjadi bintang dalam ragam film yang sangat mereka gemari di masa mereka masih menjadi pencatut karcis bioskop. Yang paling dramatis, proses pembuatan film fiksi ini menjadi katalis bagi perjalanan emosi Anwar, dari jumawa menjadi sesal ketika ia menghadapi, untuk pertama kali dalam hidupnya, segenap konsekuensi dari semua yang pernah dilakukannya. Saat nurani Anwar yang rapuh mulai terdesak oleh hasrat untuk tetap menjadi pahlawan, Jagal menyajikan sebuah konflik yang mencekam antara bayangan tentang moral dengan bencana moral.[ disarikan dari jagal.com ]

Dalam publikasi melalui youtube dijelaskan bahwa proses produksi Jagal (The Act of Killing) dilakukan dengan cara mengundang Anwar dan rekan pelaku pembunuhan lainnya untuk menceritakan kenangan mereka mengenai pembunuhan. Tetapi gagasan mereka tidak untuk dituangkan dalam sebuah film dokumenter "Mereka ingin membintangi jenis film yang mereka gandrungi dari era percaloan tiket di bioskop. Film Jagal menangkap kesempatan ini untuk mengungkap bagaimana sebuah rejim yang dibangun dengan genosida--dan tak pernah dimintai pertanggunggugatannya--mencitrakan dirinya dalam sejarah," jelas Anon Dua dalam keterangannya di youtube.

Ketika mulai mempublikasikan proses pembuatan film ini pada 17 Des 2013, Anon Dua juga menjelaskan kepada masyarakat  seperti ini: "Bagi yang ingin menyelenggarakan nobar bersama teman atau keluarga, silakan hubungi email anonymous@final-cut.dk atau lewat inbox www.facebook.com/filmjagal."

Jika ingin menyaksikan proses pembuatan film dapat melihat dalam youtube Anon Dua. Atau download melalui www.actofkilling.com.  Tapi kalau kesulitan dapat donwload melalui torrents di sini.

  

Sutradara: Joshua Oppenheimer

Starring: Anwar Congo, Herman Koto, Adi Zulkadri, Ibrahim Sinik, Japto Soerjosoemarno, S.H., Rasyid Soaduon Siregar, B.A., H. Anif Shah, Sakhyan Asmara




21:46 | 0 komentar | Read More

Download Gratis 'The Act of Killing' dan Terbitnya Petisi Hukum Anwar Congo

Awalnya,  Joshua Oppenheimer datang ke Serdang Bedagai, Sumatra Utara, pada 2001 untuk membuat film dokumenter tentang buruh perkebunan. Tapi pria kelahiran Texas, Amerika Serikat, tahun 1974 itu akhirnya memproduksi film documenter  tentang pembunuhan massal 1965 berjudul “The Act of Killing” selama tujuh tahun sejak  2004. Dan sekarang, Anwar Congo, tokoh utama yang menjadi pelaku “pembantaian manusia“ dalam “The Act of Killing” mendapat serangan balik melalui gerakan petisi yang dipelopori Bramantyo Prijosusilo, warga Yogyakarta.

Film Dokumenter Gratis untuk Indonesia

Agustus 2013 lalu, sutradara Joshua Oppenheimer dan pihak yang terlibat dalam produksi film 'The Act of Killing' mengumumkan kepada public bahwa film tersebut bisa diunduh gratis di internet khusus untuk Indonesia. Joshua berharap agar masyarakat Indonesia mau kembali menengok sejarah yang terjadi dalam kurun 1965-1966.

"Sejarah dari pembantaian 1965 adalah milik rakyat Indonesia. Dan untuk alasan itu, selalu menjadi niatan kami untuk memberikan film tersebut kepada semua warga Indonesia," ujar Joshua ketika menyampaikan keterangan pers,  Agustus 2013.

Mau tahu isi film documenter tentang pembantai sadis 1965 tersebut? Silakan download melalui www.actofkilling.com.  Tapi kalau kesulitan dapat donwload melalui torrents di sini.

Petisi Hukum dan Pembelajaran Generasi Baru
Setelah 'The Act of Killing' dapat download gratis di Indonesia sejak Agustus 2013, akhirnya kini muncul petisi tuntutan hukum terhadap pelaku pembantaian masyatakat terduga PKI yang terjadi 1965-1966 tersebut. Adalah Bramantyo Prijosusilo, warga Yogyakarta, yang menjadi penggagas petisi. “Tangkap Anwar Congo Dkk Atas Pengakuan Menyiksa dan Membantai dalam Film Dokumenter Jagal Karya Joshua Oppenheimer !” tegas Bramantyo Prijosusilo dalam petisi yang dikirimkan kepada Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri).

"Ini adalah usaha meretas belenggu impunitas pembantai yang selalu menjerat kaki kita sebagai bangsa saat hendak melangkah menuju kemanusiaan yang adil dan beradab," kata Bramantyo Prijosusilo dalam penggalangan petisi melalui change.org.

Apa reaksi Kapolri Jenderal Pol Sutarman terhadap petisi tentang tuntutan hukum terhadap Anwar Congo ini? Menurut Kapolri, semua kasus hukum yang sudah terlalu lama sudah tak bisa lagi dilakukan pengusutan secara hukum lantaran sudah habis masa waktunya. "Itu kejadiannya kapan? Ya kalau peristiwanya tahun 1965 tidak bisa diproses hukum sekarang," kata Sutarman kepada merdeka.com, Jumat (7/3).

Bagiamana hasil akhir dari petisi yang dipelopori Bramantyo Prijosusilo tersebut? Masyarakat Indonesia mungkin sudah dapat menebak sendiri tentang ending dari petisi tuntutan hukum terhadap Anwar Congo. Secara hukum, mungkin saja Bramantyo Prijosusilo akan “kalah”. Tapi secara moril, mereka yang ikut menanda tangani petisi setidaknya punya andil besar dalam memberikan edukasi positif kepada para generasi muda. Minimal, benang kusut pegolakan politik di masa lalu, jangan sampai terulang lagi di Indonesia dengan memita banyak korban seperti yang terjadi pada masa 1965-1966 silam..


Sebelum Bramantyo Prijosusilo menggagas petisi, sudah ada petisi lain terkait tragedy pembantaian 19965/1966 seperti yang digagas Carmel Budiardjo dalam change.org berjudul “Say Sorry for '65”.  Saya sepakat dengan petisi itu. Kenapa demikian? "Kesalahan yang dibiarkan akan memberikan EDUKASI BURUK bagi generasi muda. Kalau hukum tak mampu memberikan keadilan, paling tidak perlu ada permintaan maaf dari pelaku kepada korban, keluarga dan masyarakat yang dirugikan." 
[SUTRISNO BUDIHARTO
20:14 | 0 komentar | Read More

Ibu Tega Hajar Anak Bayi

Rasa prihatin atas terungkapnya kasus penganiayaan terhadap anak-anak di panti asuhan Samuel belum reda, Saya mendapat kiriman video kekerasan anak melalui facebook. Video yang diunggah melalui ID Syahyoe Seva pada 12 Februari 2014 itu cukup mengerikan; seorang ibu tega menghajar anaknya yang masih bayi. Aneka kecaman pun terlontar di facebook.


Video kekerasan anak yang Saya dapat dari facebook tersebut hanya berdurasi empat menit, namun rasanya Saya tak tega melihatnya. Cukup banyak pengguna facebook yang membagikan video ini, mencapai lebih dari 5 ribu. Sedang komentarnya hampir semuanya memuat kecaman dan  cacian terhadap ibu pelaku kekerasan.






 Contoh respon public terhadap video yang diunggah di facebook tanggal 12 Februari 2014 tersebut dapat dilihat dalam box di bawah di sini ini.

Rida Purni : astagfirullahalazim....kasian tuh anaknya....ibunya lg kesetanan..yg merekam pun kemasukan setan...bukannya di tolong anaknya...mlh berat merekamnya lg....ckckck...

Siall..... Bodoh betul ni perempuan... Lbh baik x payah beranak klu mcm tu... Sakit hati sya tngk...

Ferry Ferleboy itu bukan ibu nya....tu baby sisternya........jd suka2 dia mo di apain anak orang..toh orang tua anak tu ga tau.....

Tri Alfina Lestari Oje kk.awak samiang gorom nengok omanyo ko...eee tukang sotingnyopun kurang aja..pajakah lotieh dek munangih...dipulopehnyo pulo tih omaknyo tambah mungazab anaknyo....samo2culako kuduonyotu...


Video kiriman itu akhirnya saya unduh dan kusimpan dalam youtube di sini http://www.youtube.com/watch?v=mV_qAuwG8Jo . Maksudnya, akan Saya simpan sebagai bukti petunjuk jika diperlukan untuk melacak siapa nama ibu yang terbilang sadis tersebut. Semula Saya menduga pelakuknya adalah orang Indonesia karena memakai dialek melayu daerah Sumatra.

Setelah mengikuti isi dialog di facebook, Syahyoe Seva - orang yang mengunggah video itu di facebook - ternyata juga mengaku tidak tahu siapa pelakunya. Dia hanya sekedar berbagi saja.

Belakangan akhirnya Saya bisa tahu, pelakunya ternyata adalah orang Malaysia. Hal itu Saya ketahui dari blog.yahoo. Kepolisian Diraja Malaysia telah melakukan tindakan hukum dan pelaku sudah ditangkap tanggal 29 Mei 2011. Ibu kandung bayi yang terbilang sadis tersebut harus menjalani hukuman selama 18 bulan. Nah semoga saja polisi di Indonesia juga dapat bersikap tegas terhadap pelaku kekerasan anak, termasuk Samuel yang dijadikan tersangka dalam kasus penganiayaan anak-anak panti asuhan.
07:52 | 0 komentar | Read More