Google+ Followers

#SaveAru: Glenn Fredly Bukan Sekedar “Artis Vote Getter”

Thursday, 24 April 2014 | 11:48

Aku kenal Glenn Fredly tahun 2007 dalam aksi “Cap Jempol Hijau” yang digelar oleh Yayasan Peduli Hutan Lestari (YPHL) di Jakarta. Ketika itu, aku dan para penulis peduli lingkungan sengaja diundang oleh Yayasan Peduli Hutan Lestari (YPHL) untuk pro aktif dalam kampanye cinta lingkungan. Kehadiran Glenn Fredly dalam kegiatan YPHL itu, semula kupikir hanya mirip sebagai “artis vote getter” yang kerap muncul dalam masa kampanye Pemilu. Jadi, walau berdiri dalam satu panggung dengan Glenn Fredly, perasaanku hanya biasa-biasa saja. Namun, belakangan aku baru sadar, perkiraanku “artis vote getter” itu ternyata meleset. Sebab, Glenn Fredly ternyata adalah artis yang punya kepedulian sosial terbilang kuat, demikian juga kepeduliannya terhadap lingkungan.

Salah satu bukti kuatnya rasa cinta lingkuangan Glenn Fredly tersebut dapat dilihat dalam aksi penggalangan dukungan Petisi Save Aru (www.change.org/SaveAru). Melalui change.org dan media sosial, Petisi Save Aru yang digalang Glenn Fredly dan Jacky Manuputty itu ternyata membuahkan hasil, yakni mampu mendapatkan tanda tangan dukungan sebanyak 15.119 suara dari seluruh penjuru Indonesia (barat, tengah dan timur). Petisi Save Aru yang ditujukan kepada Presiden RI (@SBYudhoyono) dan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan (@Zul_Hasan) tersebut, rupanya membuat pejabat pemerintah harus sepakat untuk menyelamatkan hutan di kawasan Aru dari pembabatan massal.

Selamat untuk @GlennFredly & @jmanuputty, selamat untuk alamku Indonesia. #TanksChangeOrg

https://www.change.org/id/petisi/pak-sbyudhoyono-pak-zul-hasan-batalkan-izin-penebangan-hutan-kepulauan-aru
11:48 | 0 komentar | Read More

Industri Asmindo (Paling) Siap Hadapi AFTA 2015

Tuesday, 22 April 2014 | 19:53

Sudah siapkah Indonesia menghadapi ASEAN Free Trade Area (AFTA) atau perdagangan bebas di kawasan ASEAN yang akan mulai diberlakukan pada 2015 nanti? Dari sekian banyak pelaku industri di Indonesia, Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) tampaknya pantas disebut yang paling siap menghadapi AFTA 2015. Bahkan, dalam AFTA 2015 nanti, Ketua Umum Asmindo, M. Taufik Gani, mengaku optimistis bahwa Indonesia akan mampu unggul bersaing dalam industri funiture dan kerajinan, khususnya yang berbahan baku kayu dan rotan non-sintetis[1].

Kalau melihat indikator Global Competitiveness Index (GCI) 2013–2014 yang dikeluarkan World Economic Forum (WEF) [2], daya saing Indonesia secara umum memang terbilang kalah kuat dengan empat negara lainnya di tingkat ASEAN. Dari 148 negara yang disurvei World Economic Forum, ranking GCI Indonesia hanya berada di rangking ke-38 atau urutan ke-5 di ASEAN. Negara ASEAN yang memiliki daya saing terkuat adalah Singapura (rank GCI 2) , kemudian disusul Malaysia (rank GCI 24), Brunei (rank GCI 26)  dan Thailand (rank GCI 37). Rangking GCI Indonesia sedikit di atas Philipina (rank GCI 59)   dan Vietnam (rank GCI 88). Daya saing Indonesia jauh lebih kuat jika hanya dibandingkan dengan Timor Leste (rank GCI 138) .
Namun, khususnya dalam industri furniture dan kerajinan berbahan baku kayu dan rotan (non bahan sintetis), daya saing Indonesia boleh disebut cukup kuat di ASEAN. Sebab, di kawasan ASEAN, Indonesia termasuk paling kaya bahan baku kayu dan rotan[3]. Karena itu, wajar saja jika para pengusaha industri furniture dan kerajinan anggota Asmindo merasa sangat siap menghadapi perdagangan bebas ASEAN yang akan diberlakukan 2015 nanti. Kesiapan Asmindo menghadapi AFTA 2015 tersebut setidaknya telah ditegaskan oleh Menteri Perindustrian Republik Indonesia, MS Hidayat. “Sektor furniture saya kira diwakili oleh produsen-produsen anggota Asmindo. Saya gembira, mereka semua sudah menyiapkan diri untuk mengikuti sirkuit perdagangan bebas ASEAN” papar MS Hidayat seperti dilansir IFFINA 2014 Journal[4].
MS Hidayat mengatakan, dalam AFTA 2015 nanti Indonesia memiliki keunggulan jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. “Kita punya bahan baku yang terbaik, pengrajin, craftman dan kreativitas bangsa Indonesia. Sehingga kita akan mampu bersaing dalam pasar bebas ASEAN.[5]” Optimisme serupa juga ditegaskan oleh Ketua Umum Asmindo, Taufik Gani. “Untuk furniture dan kerajinan berbahan baku kayusustainable non sintetis, Indonesia dapat unggul bersaing karena kaya dengan bahan baku sustainable,” tegas Taufik Gani. Pada AEC (Asean Economic Community) tahun depan diperkirakan akan menambah market di regional ASEAN[6].
IFFINA Pintu Asmindo Membuka Pasar Dunia
Selain kaya bahan baku alam, Asmindo juga sudah memiliki agenda rutin tahunan dalam membangun pasar furniture dan kerjinan di tingkat internasional, yakni  berupa “Internasional Furniture & Craft Fair Indonesia” (IFFINA) – sebuah ajang pameran intenasional yang menjadi jembatan pertemuan antara para buyers dari berbagai negara dengan para pelaku industri  furniture dan kerajinan anggota Asmindo di seluruh Indonesia. Tidak hanya itu, Asmindo juga terlibat aktif dalam asosiasi industri global seperti AFIC (ASEAN Furniture Industrial Council) dan CAFA (Council of Asia Furniture Association) sebagai jembatan Asmindo dalam membawa seluruh anggotanya untuk go international.
Seperti diberitakan berbagai media, pada even IFFINA ke-7 yang digelar Asmindo tahun 2014 ini mampu mendatangkan 4.500 buyers lebih (dari 115 negara). Berdasarkan pengalaman IFFINA tahun-tahun sebelumnya, sedikitnya ada 3.663 buyers menghadiri pameran mebel terbesar di Indonesia ini. Jumlah buyers terbesar dari Amerika Serikat (AS) 6,1 persen, disusul India 5,7 persen, Australia 5,2 persen, Perancis 5,1 persen, Belanda 4,6 persen, Malaysia 3,7 persen, Singapura 3,4 persen dan sisanya banyak yang dari Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, Rusia, Turki, dan lainnya.
Menurut Ketua Komda Asmindo DIY, Yuli Sugianto, nilai transaksi yang diperoleh anggota Asmindo DIY dalam IFFINA 2014 mencapai USD 500 juta atau melebihi target. Nilai itu adalah transaksi pesanan langsung (on the spot order) pada saat pameran, belum termasuk transaksi pasca acara IFFINA 2014. “Ini belum termasuk hitungan order lanjutan dari berbagi iniquiri dan quotation dari buyer yang hadir,” kata Ketua DPD Asmindo DIY, Yuli Sugianto, Jumat (21/3).[7] Karena itu, wajar saja jika Ketua Umum Asmindo optimistis bahwa IFFINA akan mampu mengangkat brand image mebel dan kerajinan Indonesia di mata dunia.
Antara Kendala dan Pasar Global ASEAN
Perlu diakui bahwa dalam pasar global eksportir industri kayu di dunia, nilai ekspor Indonesia masih kalah dengan Malaysia dan Vietnam. Data yang dilansir Kantor Berita Antara menyebutkan, total ekspor mebel dunia sepanjang 2013 mencapai USD 124 miliar. Dalam pasar global 2013 tersebut, nilai ekspor mebel Indonesia hanya mencapai 1,5 persen atau hanya USD 1,7 miliar dan hanya menempati peringkat ke-13 sebagai negara pengekspor industri kayu. Sedang Vietnam memiliki nilai ekspor mebel lebih tinggi, yakni USD 4,2 miliar. Sementara Malaysia memiliki nilai ekspor USD 2,4 miliar[8].
1396388565195058748
Kalau melihat data ekspor mebel pada tahun 2005 (lihat grafik di atas), Indonesia sebenanrnya masih lebih unggul dari Vietnam[9]. Tapi kenapa kini Malaysia dan Vietnam yang memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) jauh lebih kecil dari Indonesia justru mampu mengekspor industri mebel lebih besar dari Indonesia?
Berdasar berbagai kajian yang dipaparkan kalangan akademisi, ada beberapa faktor yang menyebabkan produktivitas industri kayu Indonesia masih lemah (Renhart Jemi)[10], antara lain adalah sebagai berikut;
  • Banyaknya retribusi daerah dan pungutan lain (pajak) hingga menimbulkan  beban biaya produksi menjadi tinggi.

  • Desain dan finishing produk masih lemah.

  • Adanya produk negara pesaing (contoh China) dengan harga murah dan desain terkini.

  • Persyaratan eksport ketat (ecolabelling dan ISO, standar perlundungan konsumen).
Tingginya biaya dalam Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) misalnya, dinilai cukup memberatkan karena biaya analisis dampak lingkungan (amdal) saja sampai Rp 30 juta. Sementara dari sisi pemerintahan, masih ada permasalahan terkait pelaksanaan AFTA 2015, antara lain adalah:       Kebijakan nasional kurang visioner;  Koordinasi terhambat oleh pendekatan sektoral; Koordinasi Pusat – Daerah kurang efektif[11]. Khususnya kebijakan ekspor kayu mentah (glondongan/log) misalnya, dinilai dapat menghambat industri furniture dan kerajinan berbahan baku kayu di dalam negeri. Karena itu, wajar saja jika Ketua Asmindo Jawa Tengah, Anggoro Ratmodiputro, menolak kebijakan ekspor kayu mentah di Indonesia[12].
Tawaran Solusi dan Peluang Face to Face di ASEAN
Jika melihat data statistik dari Kemerntrian Perindustrian RI, nilai eksport-import (khusunya dalam industri pengolahan kayu, pengolahan hasil hutan, dan pengolahan rotan olahan) secara face to face per negara di tingkat ASEAN, Indonesia terbilang lebih unggul (lihat Lampiran Tabel Eksport-Import) dan punya peluang menguasai pasar. Seandainya berbagai kendala atau hambatan dalam industri furniture dan kerajinan (dipaparkan di atas) dapat segera diatasi dengan solusi yang tepat, maka target ekspor furniture USD 3 miliar pada tahun 2014 ini dan USD 5 miliar dalam waktu lima tahun ke depan (pembukaan IFFINA 2014) [13], sangat mungkin dapat tercapai. Beberapa solusi yang harus ditempuh untuk mendorong produktivitas industri furniture dan kerajinan Indonesia tersebut antara lain adalah sebagai berikut;
  • Perbaikan infrastruktur (transportasi, telekomunikasi, jalan tol, pelabuhan, revitalisasi dan restrukturisasi industri, dan lain-lain).

  • Peningkatan iklim usaha dan mengurangi ekonomi biaya tinggi (reformasi bidang perpajakan, kepabeanan, dan birokrasi)

  • Peningkatan kualitas sumber daya manusia di birokrasi, dunia usaha ataupun professional (sistem pendidikan nasional).
Biaya tinggi dalam sertifikasi SVLK misalnya, kalau dapat dipangkas sekecil-kecilnya, bukan tak mungkin produktivitas industri furniture dan kerajinan Indonesia akan naik pesat. Apalagi, kalau ekspor kayu mentah dilarang, industri furniture dan kerajinan Indonesia bisa cepat bangkit menguasai pasar ASEAN dan dapat bersaing dengan China yang kini mendominasi ekspor furniture dunia sebesar 40 persen.
Semoga saja, pemerintah, kalangan akademisi dan para pegiat LSM dapat bersinergi bersama Asmindo dalam pengembangan industri furniture dan kerajinan Indonesia. Sebab, industri furniture dan kerajinan punya nilai tambah tinggi, menyerap banyak tenaga kerja dan berperan penting dalam perbaikan ekonomi di Indonesia. Kalau potensi bahan baku Indonesia sangat melimpah, kenapa harus menunda sinergisitas dalam mendongkrak ekspor Indonesia? [***]
LAMPIRAN TABEL:
139639518720942189261396395241157571668313963952831464401029
[1] Wawancara penulis dengan Taufik Gani di arena pameran “Internasional Furniture & Craft Fair Indonesia” (IFFINA) 2014, Parkir Timur Senayan, Jakarta, 14-17 Maret 2014.
[2] Global Competitiveness Index 2013–2014; World Economic Forum; - http://www3.weforum.org
[3] Siaran Pers Kementrian Perindustrian RI; “Program Hilirisasi Rotan Menuai Hasil Positif”; Jakarta, 17 April 2012.
[4] IFFINA 2014 Journal ; “The Minister of Industry MS Hidayat Gives His Support for IFFINA 2014″; Asmindo - 2014.
[5] IFFINA 2014 Journal ; “The Minister of Industry MS Hidayat Gives His Support for IFFINA 2014″; Asmindo - 2014.
[6] Wawancara penulis dengan Taufik Gani di arena pameran “Internasional Furniture & Craft Fair Indonesia” (IFFINA) 2014, Parkir Timur Senayan, Jakarta, 14-17 Maret 2014.
[7] Laporan Reporter Tribun Jogja, Victor Mahrizal; “Produk Klasik Yogya Banyak Diburu Buyer Asing”; TRIBUNJOGJA.COM - 22 Maret 2014.
[8] Rangga Pandu Asmara Jingga; “Ekspor mebel Indonesia masih di bawah Malaysia dan Vietnam”; www.antaranews.com - 11 Maret 2014
[9] Tulus Tambunan; Working Paper Series No.5 Pusat Studi Industri dan UKM Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti - Agustus 2006.
[10] Renhart Jemi Staf Pengajar Jurusan Kehutanan Faperta UNPAR; Perkembangan Industri Pengolahan Kayu dan Hasil Hutan Bukan Kayu”; Disampaikan pada Pembekalan PKL/Magang TA 2013/2014 Mahasiswa Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya 24 Februari 2014
[11] Tanjung Redeb; “Menghadapi MEA 2015″ Direktorat Kerja Sama ASEAN, Ditjen KPI, Kemendag, Tanjung Redeb - 19 Maret 2014
[12] “Asosiasi Mebel Tolak Rencana Ekspor Kayu Mentah’; Tempo - 25 Maret 2014.
[13] Press Release IFFINA 2014; International Furniture and Craft Fair Indonesia (IFFINA) 2014; Asmindo 14 – 17 Maret 2014 di Parkir Timur Senayan, Jakarta.
19:53 | 0 komentar | Read More

Rekapitulasi Versi http://sragenkab.go.id/pilleg: PDIP Sragen Unggul

Thursday, 10 April 2014 | 14:19

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sragen belum mengeluarkan informasi hasil penghitungan suara Pemilihan Umum Anggota Legislatif 2014. Kendati demikian, dalam website Pemerintah Kabupaten Sragen telah mempublikasikan hasil rekapitulasi suara sementara. Dalam webhttp://sragenkab.go.id/pilleg terdapat REKAPITULASI HASIL PENGHITUNGAN SUARA SEMENTARA PEMILIHAN ANGGOTA LEGISLATIF KABUPATEN SRAGEN 2014 seperti tampak di bawah ini: 

Menurut rekapitulasi versi http://sragenkab.go.id/pilleg pada Jam 13.00 - 10 April 2014, PDIP meraih suara terbesar (25%).

14:19 | 0 komentar | Read More